Wednesday, 20 December 2023

Bab 6. PAI SMP Kelas 8 Semester 2. Inspirasi Al-Qur’an Indahnya Beragama Secara Moderat

Tujuan Pembelajaran
  1. Melalui metode tutor sebaya, kalian dapat membaca Q.S. alBaqarah/2:143 sesuai kaidah tajwid, khususnya hukum bacaan nun sukun/tanwin dan mim sukun, dengan  benar serta terbiasa membaca al-Qur’an dengan disiplin.
  2. Melalui teknik pembelajaran the power of two, kalian dapat menghafal Q.S. al-Baqarah/2:143 dan hadis tentang sikap moderat dalam beragama dengan lancar serta terbiasa menghafalkan al-Quran dengan penuh semangat.
  3. Melalui model pembelajaran discovery learning kalian dapat menjelaskan kandungan Q.S. al-Baqarah/2:143 dan hadis tentang sikap moderat dalam beragama dengan benar serta meyakini kebenaran Islam sebagai agama yang mengajarkan sikap moderat 
  4. Melalui model pembelajaran berbasis masalah, kalian dapat menyelesaikan persoalan hubungan intern dan antar umat beragama dalam kehidupan sehari-hari dengan baik serta dapat menjalankan agama secara moderat dalam kehidupan sehari-hari.
  5. Melalui model pembelajaran berbasis produk, kalian dapat menulis Q.S. al-Baqarah/2:143 dan hadis tentang sikap moderat dengan benar dan menyusun pantun yang berisi tentang pentingnya sikap moderat dalam beragama dengan baik serta tertanam sikap saling menghargai perbedaan antar dan intern umat beragama.
Beragama Secara Moderat
Q.S. Al-Baqrah/2:143 ummatan wasatan
Berlaku adil dengan senantiasa menegakkan keadilan dan kebenaran serta membela yang hak dan melenyapkan yang batil.
Bersikap moderat dengan berada di posisi tengah antara kepentingan keduniaan dalam kehidupannya dan kepentingan akhirat saja.
Seorang yang moderat akan menempatkan urusan dunia dan akhirat secara seimbang dan proporsional.
Seorang yang moderat akan tetap berlaku adil terhadap siapapun meskipun pandangan yang berbeda dengan mereka.

Ayo Belajar Membaca Al-Qur’an dengan Fasih!
Siswa yang budiman, pada bab ini kalian akan belajar tentang kaidah bacaan nun mati/tanwin dan mim mati. Setelah mempelajarinya diharapkan kalian dapat membaca Q.S. al-Baqarah/2:143 dengan tartil.
Bacaan Nun Mati atau Tanwin
Nun mati adalah huruf nun dengan harakat sukun. Nun mati tidak bisa dibunyikan kecuali diawali huruf lain. Sementara tanwin adalah nun mati yang bertempat di akhir kata benda (al-ism) yang terlihat apabila dibaca bersambung dengan huruf berikutnya dan hilang ketika dibaca waqaf (berhenti). Tanwin pada dasarnya juga huruf nun mati, tapi dalam bahasa tulis diganti dengan tanwin. Sedangkan jika dibunyikan, fungsinya sama dengan huruf nun mati.

Ada Lima hukum bacaan, jika ada nun mati atau tanwin bertemu dengan salah satu huruf hijaiah. Hukum bacaan itu adalah izhar, izgam, iqlab, dan ikhfa.

1. Izhar
Izhar berarti jelas, terang, dan tampak. Nun mati atau tanwin dibaca iẓhar apabila bertemu dengan huruf ḥalqi, yang berjumlah enam huruf, yaitu hamzah (ء), ha (ه), ain (ع), gain (غ), ha (ح), dan kha (خ). 

Apabila ada nun mati atau tanwin bertemu dengan salah satu di antara huruf ini, maka nun mati atau tanwin itu dibaca jelas. Dengan enam huruf ḥalqi, ini, bacaan ini juga bisa disebut izhar ḥalqi.

Perhatikan beberapa contoh bacaan iẓhar berikut :
يَنْئَوْنَ
عَنْهُمْ
عَزِيْزٌ غَفُوْرٌ
مِنْ عِلْمٍ
وَانْحَرُ 
مِنْ خَيْرٍ

Izhar Kilmi :
صِنْوَانُ   بُنْيَانُ

2. Idgam Bi Gunnah
Idgam berarti memasukkan sesuatu pada sesuatu. Nun mati atau tanwin dibaca idgam apabila bertemu dengan huruf-huruf idgam yang berjumlah enam huruf, yaitu ya (ي), nun (ن), mim (م), waw (و).

Cara membacanya dibaca dengung (gunnah), yaitu ya (ي), nun (ن), mim (م), waw (و).

Hukum bacaannya dimasukkan ke dalamnya disertai dengung.
Namun bacaan  idgam bi gunnah memiliki syarat, yaitu apabila terjadi di dua kata.

Perhatikan beberapa contoh bacaan idgam bi gunnah berikut :
وَنُوْحًا وَالَ -  بِخَيْرٍ مِنْ -  مِنْ نَصِرِينَ  - مَنْ يَقُولُ

Jika terjadi dalam satu kata maka nun matinya dibaca terang. Bacaan terang ini disebut dengan iẓhar kilmi.

3. Idqom Bila Gunnah
Sebagian huruf-huruf idgam lainnya dibaca tanpa dengung (bi la gunnah), yaitu (ل) dan ra (ر ). Hukum bcaannya disebut bi la gunnah. Huruf nun mati atau tanwin yang bertemu dengan huruf-huruf ini dimasukkan ke dalamnya disertai dengan dengung.

Perhatikan beberapa contoh bacaan idgam bi la gunnah berikut :
 مِنْ رَّبِّهِمْ -  مِنْ لَدُنْكَ

4. Iqlab
Iqlab berarti mengubah bentuk sesuatu dari asalnya. Yakni Nun mati atau tanwin dibaca iqlab apabila bertemu dengan huruf ba (ب). 
Cara membaca bacaan iqlab adalah dengan mengubah nun mati atau tanwin menjadi mim (م) dengan disertai dengung.

Perhatikan beberapa contoh bacaan iqlab berikut :
مُصَدِّقًا بِكَلِمَةٍ
ذُرِّيَّةٌ بَعْضُهَا

5. Ikhfa'
Ikhfa' berarti menutupi atau menyembunyikan. Nun mati atau tanwin dibaca ikhfa' apabila bertemu dengan 15 huruf ikhfa', yaitu Ta (ت), Tsa (ث), Jim (ج), Dal (د), Dzal (ذ), Zai (ز), Sin (س), Syen (ش), Shod (ص), Dhod (ض), Tho' (ط), Dho' (ظ), Fa (ف), Qof (ق), dan Kaf (ك). 

Cara membaca bacaan ikhfa' adalah dengan menyembunyikan huruf nun mati atau tanwin yang bertemu dengan huruf-hurus tersebut (dibaca samar).

Perhatikan beberapa contoh bacaan ikhfa' berikut :
ذُرِّيَّةٌ طَيِّبَةً
مِنْ لَّدُنكَ
عِنْدَهَا
أُنثَى
إِنْ كُنْتُمْ

Bacaan Mim Mati
Apabila ada mim mati bertemu dengan salah satu huruf hijaiyah, maka ada tiga macam hukum bacaan, yaitu ikhfa’ syafawi, idgam mislain, dan iẓhar syafawi.

Ada 3 bacaan Huruf Mim Mati :
1) Ikhfa’ syafawi.
Ikhfa’ berarti menutupi atau menyembunyikan, sedangkan syafawi berarti bibir. Disebut ikhfa’ syafawi apabila ada huruf mim mati bertemu dengan huruf ba (ب). Cara membacanya huruf mim mati disembunyikan dengan dibaca samar antara jelas dan berdengung.

Perhatikan contoh bacaan mim mati berikut!

Contoh bacaan Ikhfa’ syafawi :
تَرْمِيْهِمْ بِحِجَارَةٍ

2) Idgam mislain.
Idgam berarti memasukkan, sementara mislain artinya sama. Disebut idgam mislain apabila ada huruf mim mati bertemu dengan sesama huruf mim. Cara membacanya huruf mim pertama dimasukkan ke dalam huruf mim kedua.

Contoh bacaan Idgam Mislain :
وَلَكُمْ مَا كَسَبْتُمْ

3) Izhar syafawi.
Izhar berarti jelas, terang, dan nampak, sementara syafawi berarti bibir. Disebut dengan bacaan Iẓhar syafawi apabila ada huruf mim mati bertemu dengan huruf selain ba (ب) dan mim (م). 
Cara membacanya, huruf mim mati dibaca jelas.

Contoh bacaan Izhar syafawi :
لَهُمْ فِيْهَا

Setelah membaca kaidah tajwid tentang bacaan nun mati/tanwin dan mim mati, tentu kini kalian sudah memahami cara membacanya. 
Sekarang, praktikkan dalam bacaan Q.S. al-Baqarah/2:143 berikut :


Artinya :
143. "Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia."

Ayo Belajar Menulis dan Menghafal Al-Qur’an
Siswa yang budiman, sekarang kalian hafalkan Q.S. al-Baqarah/2:143 tersebut. Setelah kalian hafal, lengkapilah ayat berikut!. Sambil melengkapi ayat, kalian dapat berlatih menulis sambil memperkuat hafalan.


Ayo Belajar Menerjemahkan!
Setelah mampu membaca, menghafal, dan menulis dengan benar, tahapan belajar selanjutnya adalah mengetahui artinya. Bacalah terjemah Q.S alBaqarah/2:143 berikut! Kemudian isilah kolom kosa kata dibawahnya untuk mengetahui arti kata-kata kunci pada ayat-ayat tersebut!

Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) ”umat pertengahan” agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Kami tidak menjadikan kiblat yang (dahulu) kamu (berkiblat) kepadanya melainkan agar Kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang berbalik ke belakang. Sungguh, (pemindahan kiblat) itu sangat berat, kecuali bagi orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sungguh, Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada manusia. (Al-Baqarah/2:143)

Ayo Belajar Memahami Kandungan Ayat!
Siswa yang budiman, kata kunci dalam memahami ayat ini terdapat pada kalimat “ummatan wasaṭan” yang berarti umat pertengahan, dan Allah SWT menyatakan bahwa Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) ”umat pertengahan”. Ayat ini menunjukkan bahwa ajaran Islam bersifat wasath (moderat), sehingga umat yang mengamalkan ajaran islam adalah umat moderat.

Dalam Tafsir Lengkap Kemenag pada Qur’an Kemenag in Word ada dua sifat yang digambarkan melekat pada ummatan wasaṭan. Pertama, ummatan wasaṭan digambarkan sebagai umat yang berlaku adil dengan senantiasa menegakkan keadilan dan kebenaran serta membela yang hak dan melenyapkan yang batil. Kedua, ummatan wasaṭan digambarkan sebagai umat yang berada di posisi tengah antara orang-orang yang mementingkan keduniaan dalam kehidupannya dan orang-orang yang mementingkan akhirat saja.

Umat yang adil
Adil memiliki tiga dimensi makna, yakni kesamaan, keseimbangan, dan proporsional. Adil dalam makna kesamaan berarti memberikan perlakuan yang sama dalam menegakkan aturan kepada semua orang tanpa membedakan latar belakang agama, sosial, ekonomi, maupun politik.
Meskipun berbeda agama, status sosial, ekonomi, pilihan politik, bahkan ada ketidaksukaan ataupun ketidakcocokan terhadap seseorang, tidak boleh dijadikan alasan untuk memberikan perlakuan yang berbeda. Semua harus diperlakukan secara sama sesuai ketentuan aturan yang berlaku.

Meskipun demikian adil tidak harus selalu sama. Ada adil dalam dimensi keseimbangan. Misalnya memberikan fasilitas khusus kepada penyandang disabilitas di sekolah, seperti jalur khusus untuk kursi roda. Fasilitas ini bukan berarti perlakuan yang tidak adil, melainkan agar terjadi keseimbangan antara peserta didik yang berkebutuhan khusus dengan yang tidak berkebutuhan khusus sehingga sama-sama terlayani dengan baik.

Sementara adil dalam makna proporsional berarti menempatkan segala sesuatu pada tempatnya atau memberikan setiap hak kepada pemiliknya. Misalnya memberikan kesempatan lebih dulu kepada orang yang datang lebih awal, memilih pengurus OSIS karena kemampuannya, atau menetapkan juara lomba berdasarkan raihan nilai tertinggi.

Umat yang moderat
Posisi tengah antara mementingkan kepentingan dunia dan akhirat, sebagaimana tafsir Q.S. Al-Baqarah/2:143, dapat diartikan sebagai sebagai sikap moderat. Moderat berarti menghindari perilaku atau pengungkapan yang ekstrem. Sedangkan ekstrem sendiri berarti sikap yang sangat keras atau fanatik. Sifat ummatan wasaṭan sebagaimana terdapat dalam Q.S. AlBaqarah/2:143 adalah sikap moderat.

Dengan bersikap moderat, seorang muslim tidak akan hanya bersandar pada kebendaan dan melupakan hak-hak ketuhanan. Akan tetapi seorang muslim juga tidak akan berlebih-lebihan dalam soal agama sehingga melepaskan diri dari segala kenikmatan duniawi. Seorang muslim yang moderat akan berada di jalan tengah dengan menyeimbangkan keduanya. Ia tidak akan ekstrem pada dunia, juga tidak ekstrem pada akhirat saja.

Dalam suatu hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Anas (no. 4982), diceritakan bahwa Rasulullah Saw pernah menjenguk seorang sahabat yang sedang sakit. Rasulullah Saw bertanya, “Apakah kamu berdoa atau meminta sesuatu kepada Allah?” Ia berkata, “Ya, aku berdoa kepada Allah. Aku berdoa, Ya Allah siksa yang kelak engkau berikan di akhirat, segerakanlah untukku di dunia.” 

Rasulullah Saw bersabda, “subhānallah, kamu tidak akan mampu menanggungnya. Mengapa kamu tidak mengucapkan, rabbanā ātinā fi al-dunya ḥasanah wa fi al-ākhirati ḥasanah wa qinā ażā ba al-nnār (Ya Tuhan kami, berikan kepada kami di dunia kebaikan dan di akhirat kebaikan dan peliharalah kami dari azab neraka).”

Memisahkan sesuatu yang bersifat duniawi atau kebendaan dari agama disebut dengan sekuler. Sedangkan berlebih-lebihan dalam agama dikenal dengan istilah guluw (melampaui batas). Keduanya, baik sekuler ataupun melampaui batas dalam beragama sama-sama berada pada sikap ekstrem. Sikap ini tentunya tidak sesuai dengan semangat ummatan wasaṭan dalam Q.S. Al-Baqarah/2:143 yang mengajarkan umat Islam untuk mengambil jalan tengah di antara dua kutub ekstrem.

Terkait dengan jalan tengah tersebut, rasulullah saw. juga bersabda sebagai berikut :
َ

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah Saw bersabda: “Amal seseorang tidak akan pernah menyelamatkannya”. Mereka bertanya: “Engkau juga, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Begitu juga aku, kecuali jika Allah melimpahkan rahmat-Nya. Maka perbaikilah, tetapi jangan berlebihan, bersegeralah di pagi dan siang hari. Bantulah itu dengan akhir-akhir waktu malam. Berjalanlah pertengahan, berjalanlah pertengahan agar kalian mencapai tujuan.”

Hadis tersebut mengajarkan agar umat Islam tidak berlebih-lebihan dalam menjalankan amal ibadahnya. Ia harus bisa menyeimbangkan dunia dan akhiratnya. Rasulullah Saw mengajarkan agar bekerja giat di pagi dan siang hari serta beribadah secara khusyuk di akhir waktu malam.

Rasululullah juga secara langsung memerintahkan umat Islam agar berjalan di jalan pertengahan dalam mencapai tujuannya. Artinya agar bersikap moderat dalam segala hal.

Para sahabat dan tabiin pun mempraktikkan Islam secara moderat. Banyak ungkapan yang dipublikasikan terkait dengan ekspresi sikap moderat para sahabat dan tabiin. Di antaranya adalah “bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau akan hidup selamanya dan beramallah untuk akhiratmu seakan-akan engkau mati besok”. Ada juga ungkapan “sebaikbaik perkara adalah yang tengah-tengah”. Munculnya ungkapan-ungkapan ini didasari atas semangat Islam moderat dalam kehidupan sehari-hari.

Siswa yang budiman, adil dan moderat memiliki keterkaitan makna yang sangat erat. Seseorang yang memiliki sifat moderat ia akan berlaku adil. Seorang moderat akan menempatkan urusan dunia dan akhirat secara seimbang dan proporsional. Sepenting apapun urusan dunia, ia tidak akan melupakan akhirat. Misalnya pada saat kegiatan OSIS atau kepanduan di luar sekolah, seorang siswa muslim yang moderat tidak akan melalaikan kewajiban untuk menjalankan salat lima waktu.

Sebaliknya, sekuat apapun keyakinan terhadap agama tidak akan menyebabkan ia melupakan tanggung jawab dunianya. Misalnya pelaksanaan salat berjamaah di masa pandemi covid-19. Walaupun sunahnya salat berjamaah adalah dengan merapatkan ṣaf salat, salat tetap harus mempertimbangkan protokol kesehatan dengan menjaga jarak antar jamaah. Ini dilakukan dalam rangka memutus penyebaran virus covid-19 di antara para jamaah salat.

Demikian halnya dengan perilaku adil. Orang bisa berlaku adil apabila ia memiliki sikap moderat. Seorang moderat akan tetap berlaku adil terhadap siapapun meskipun memiliki pandangan yang berbeda dengan mereka. Misalnya seorang peserta didik yang tetap menjaga pertemanan dan silaturrahmi dengan teman-temannya yang berbeda agama ataupun berbeda cara menjalankan agamanya.

Sejarah Pancasila dan sikap moderat para pemimpin umat Islam
Siswa yang budiman, pada waktu Pancasila sedang didiskusikan di Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), negara-negara di dunia berada pada dua titik ekstrem. Sebagian negara menganut paham sekuler seperti negara-negara Barat. Mereka memisahkan urusan agama dengan negara. Sebagian lainnya menjadikan agama sebagai dasar negara seperti beberapa negara di Timur Tengah. Mereka memandang bahwa agama mengatur semua urusan negara.

Tarik menarik itu pun terjadi di BPUPKI. Para pemimpin yang mewakili umat Islam, menginginkan agar Islam dijadikan sebagai dasar negara. Alasannya dikarenakan mayoritas rakyat Indonesia beragama Islam. Selain itu Islam sebagai dasar negara juga sudah dipraktikkan dalam kerajaankerajaan
Islam di Indonesia. Namun sebagian menginginkan agar Indonesia didirikan sebagai negara sekuler yang tidak berdasarkan pada agama.

Di tengah tarik menarik dua kutub ekstrem itu, Piagam Jakarta ditawarkan sebagai jalan tengah. Jalan tengah itu adalah dengan menempatkan kalimat “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” pada poin pertama Piagam Jakarta. Dengan poin tersebut Indonesia bukanlah sebuah negara sekuler, bukan pula negara agama. Melainkan negara kebangsaan yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Para pemimpin umat Islam saat itu menyepakati jalan tengah yang dirumuskan bersama dengan elemen bangsa yang lain. Para pemimpin umat Islam menyadari bahwa Islam mengajarkan sikap moderat dalam beragama. Karena itulah mereka menyepakati Piagam Jakarta yang menawarkan jalan tengah sebagai dasar negara. Bukan sekularisme yang memisahkan agama dengan negara, bukan pula berbentuk negara agama.

Poin-poin Piagam Jakarta kemudian dimasukkan dalam pembukaan UUD 1945 yang dibacakan pada waktu proklamasi kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945. Namun sore hari setelah proklamasi kemerdekaan, ada aspirasi dari wilayah timur Indonesia, khususnya dari masyarakat Protestan dan katolik, yang merasa keberatan dengan kalimat “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” dalam Pembukaan UUD 1945. Aspirasi itu disampaikan oleh Wakil Presiden Muhammad Hatta kepada para pemimpin umat Islam, yaitu Ki Bagoes Hadikoesumo, Wachid Hasyim, Kasman Singodimedjo, dan Teuku Hasan.

Demi persatuan bangsa Indonesia yang baru saja diproklamirkan, para pemimpin umat Islam itu pun menyetujui aspirasi itu. Tujuh kata yang dipersoalkan oleh masyarakat Protestan dan Katolik di wilayah
timur Indonesia itu pun diganti menjadi “Yang Maha Esa” sehingga berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Jadilah Pancasila dengan lima sila seperti yang selalu kalian baca pada waktu upacara bendera.

Sikap para pemimpin umat Islam ini menunjukkan cara beragama yang moderat. Mereka tidak bersikap ekstrem dengan kepentingan umat Islam yang diwakilinya. Para pemimpin umat itu juga tidak serta merta mengabaikan kepentingan umat yang dipercayakan kepada mereka. Mereka mengambil jalan tengah yang moderat demi cita-cita bersama, yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Oleh karena sikap beragama yang moderat inilah, bangsa Indonesia yang majemuk bisa hidup secara harmonis seperti sekarang ini. Salah satu contohnya adalah keharmonisan masyarakat Kampung Puncak Liur, Desa Ranamese, Kecamatan Sambirampas, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur sebagaimana sudah kalian baca di rubrik Mari Bertafakur. Masih banyak contoh lainnya di kampung-kampung di seluruh penjuru tanah air yang juga mempraktikkan kehidupan keberagamaan yang moderat sehingga bisa hidup berdampingan secara harmonis.

Tanpa sikap moderat yang dihadirkan oleh para pemimpin umat Islam di BPUPKI, keharmonisan seperti itu mustahil terjadi. Dengan demikian, cara beragama yang moderat seperti yang dicontohkan para pemimpin umat Islam di masa lalu itu harus kita teladani bersama sehingga umat beragama dapat hidup berdampingan secara damai dan harmonis.
==

Wednesday, 29 November 2023

Pembahasan Latihan Soal Bab. 5. Meneladani Produktivitas dalam Berkarya dan Semangat Literasi Masa Keemasan Islam Era Daulah Abbasiyah (750-1258 M)

Siswa yang budiman, pada bab ini kalian akan mempelajari pembahasan soal tentang Bayt alḤikmah sebagaimana yang ditampilkan dalam rubrik Mari Bertafakur. Kalian juga akan mempelajari latar belakang sejarah berdirinya Bayt al-Ḥikmah, yang meliputi sejarah Daulah Abbasiyah, para khalifah yang mendirikan dan mengambangkan Bayt al-Ḥikmah, serta perkembangan Bayt al-Ḥikmah itu sendiri. Kalian juga akan belajar tentang keindahan seni yang berkembang pada saat itu.

Pembahasan Latihan Soal 1 :
Pada masa Dinasti Abbasiyah, peradaban Arab-Islam mencapai kemajuan yang sangat gemilang di wilayah Timur. Pusat-pusat pengajaran didirikan, diantaranya Baitul Hikmah (gedung ilmu pengetahuan) sebuah lembaga ilmu pengetahuan yang diantaranya berfungsi untuk ...

Jawaban : 
Baitul Hikmah adalah sebuah lembaga ilmu pengetahuan yang didirikan pada masa Dinasti Abbasiyah. Lembaga ini berfungsi sebagai berikut:
Baitul Hikmah memiliki koleksi buku yang sangat besar, baik yang berasal dari Arab, Persia, India, maupun Yunani. Buku-buku ini disalin dan diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh para ulama dan ilmuwan Muslim.
Baitul Hikmah juga berfungsi sebagai lembaga pendidikan. Di sini, para pelajar dari berbagai penjuru dunia belajar berbagai ilmu pengetahuan, termasuk ilmu agama, ilmu filsafat, ilmu astronomi, dan ilmu matematika.
Baitul Hikmah juga berfungsi sebagai lembaga penerjemahan. Para ulama dan ilmuwan Muslim di sini menerjemahkan buku-buku dari berbagai bahasa ke dalam bahasa Arab. Terjemahan-terjemahan ini kemudian menjadi sumber pengetahuan bagi para ilmuwan Muslim untuk mengembangkan ilmu pengetahuan mereka.
Baitul Hikmah juga berfungsi sebagai lembaga penelitian. Para ilmuwan Muslim di sini melakukan penelitian di berbagai bidang ilmu pengetahuan. Penelitian-penelitian ini telah memberikan kontribusi yang besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan dunia.

Baitul Hikmah telah menjadi salah satu pusat ilmu pengetahuan yang paling penting dalam sejarah Islam. Lembaga ini telah berperan penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan Islam dan dunia.
Berikut adalah beberapa tokoh ilmuwan Muslim yang berkarya di Baitul Hikmah:
Al-Khwarizmi (780-850 M)
Al-Battani (858-929 M)
Al-Biruni (973-1048 M)
Ibn Sina (980-1037 M)
Tokoh-tokoh ilmuwan Muslim ini telah memberikan kontribusi yang besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan di berbagai bidang, termasuk astronomi, matematika, geografi, dan kedokteran.

Pembahasan Soal 2 :
Salah satu kebijakan penting Daulah Abbasiyah dalam pengembangan ilmu pengetahuan yaitu....

Jawaban :
Salah satu kebijakan penting Daulah Abbasiyah dalam pengembangan ilmu pengetahuan yaitu menggalang penerjemahan buku-buku ilmu pengetahuan dari bahasa asing ke bahasa Arab. Kebijakan ini dilakukan untuk memperkaya khazanah ilmu pengetahuan Islam dengan mentransfer ilmu pengetahuan dari peradaban lain, terutama Yunani dan India.

Kebijakan ini diprakarsai oleh Khalifah Harun al-Rasyid dan Al-Ma'mun. Al-Ma'mun bahkan mendirikan lembaga penerjemahan yang dikenal dengan nama Baitul Hikmah. Lembaga ini dihuni oleh para ulama dan ilmuwan Muslim yang ahli dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan.

Kebijakan penerjemahan ini telah memberikan dampak yang sangat besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan Islam. Buku-buku dari berbagai bidang ilmu pengetahuan, seperti astronomi, matematika, filsafat, dan kedokteran, diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Terjemahan-terjemahan ini kemudian menjadi sumber pengetahuan bagi para ilmuwan Muslim untuk mengembangkan ilmu pengetahuan mereka.
Berikut adalah beberapa contoh buku yang diterjemahkan pada masa Daulah Abbasiyah:
Almagest karya Ptolemy (Yunani)
Siddhanta karya Aryabhata (India)
Euclides' Elements karya Euclid (Yunani)
Corpus Aristotelicum karya Aristoteles (Yunani)
Kebijakan penerjemahan ini telah membawa dampak yang sangat besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan dunia. Ilmu pengetahuan Islam yang berkembang pesat pada masa Daulah Abbasiyah kemudian menyebar ke Eropa dan memberikan kontribusi yang besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan di Eropa.

Pembahasan Soal 3 :
Pada masa Abbasiyah, ilmu pengetahuan Islam berkembang pesat. Hal ini tidak dapat dilepaskan dari peran aktif Khalifah Harun ar-Rasyid yang diteruskan putranya yang bernama al-Ma'mun, pendiri lembaga ilmu pengetahuan yang dinamakan...

Jawaban :
Lembaga ilmu pengetahuan yang didirikan oleh Khalifah al-Ma'mun adalah Baitul Hikmah. Baitul Hikmah adalah lembaga penerjemahan, penelitian, dan pendidikan yang didirikan pada tahun 832 M di Baghdad, Irak. Lembaga ini didirikan untuk menerjemahkan karya-karya ilmiah dari bahasa Yunani, Persia, dan India ke dalam bahasa Arab. Selain itu, Baitul Hikmah juga menjadi pusat penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan, serta tempat pendidikan para ilmuwan dan cendekiawan.

Baitul Hikmah memiliki peran yang sangat besar dalam perkembangan ilmu pengetahuan Islam. Lembaga ini telah menerjemahkan ribuan karya ilmiah dari berbagai bidang, termasuk matematika, astronomi, kedokteran, filsafat, dan teologi. Terjemahan-terjemahan ini telah menjadi dasar bagi perkembangan ilmu pengetahuan Islam di masa selanjutnya.

Selain itu, Baitul Hikmah juga telah menghasilkan banyak ilmuwan dan cendekiawan yang berpengaruh, seperti Al-Kindi, Al-Farabi, dan Ibnu Sina. Ilmuwan-ilmuwan ini telah memberikan kontribusi yang besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan Islam, baik di bidang teori maupun praktik.

Keberhasilan Baitul Hikmah dalam mengembangkan ilmu pengetahuan Islam telah menjadikannya sebagai salah satu lembaga ilmu pengetahuan paling penting dalam sejarah Islam. Lembaga ini telah menjadi simbol dari kebangkitan ilmu pengetahuan Islam pada masa Abbasiyah.

Pembahasan Soal 4 :
Berikut ini adalah tokoh cendikiawan muslim dalam bidang ilmu kalam pada masa Abbasiyah, yaitu ...

Jawaban :
Berikut ini adalah tokoh cendikiawan muslim dalam bidang ilmu kalam pada masa Abbasiyah, yaitu:Abu Hasan al-Asy'ari (873-935 M)

Abu Hasan al-Asy'ari adalah salah satu tokoh ilmu kalam paling berpengaruh dalam sejarah Islam. Ia lahir di Basra, Irak, pada tahun 873 M. Al-Asy'ari awalnya menganut paham Mu'tazilah, tetapi kemudian berpindah ke paham Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Al-Asy'ari telah menulis banyak karya dalam bidang ilmu kalam, termasuk Maqalat al-Islamiyyin, al-Ibanah, dan al-Luma'. Karya-karyanya ini telah menjadi rujukan bagi para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam bidang ilmu kalam.Abd al-Manshur al-Maturidi (853-944 M)

Abd al-Manshur al-Maturidi adalah salah satu tokoh ilmu kalam yang juga berpengaruh dalam sejarah Islam. Ia lahir di Maturid, Uzbekistan, pada tahun 853 M. Al-Maturidi menganut paham Ahlus Sunnah wal Jamaah, dan pemikirannya memiliki kesamaan dengan pemikiran Abu Hasan al-Asy'ari.

Al-Maturidi telah menulis banyak karya dalam bidang ilmu kalam, termasuk Tafsir al-Maturidi, al-Aqa'id al-Maturidiyyah, dan al-Tawhid. Karya-karyanya ini telah menjadi rujukan bagi para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam bidang ilmu kalam.

Selain Abu Hasan al-Asy'ari dan Abd al-Manshur al-Maturidi, masih banyak lagi tokoh cendikiawan muslim dalam bidang ilmu kalam pada masa Abbasiyah. Beberapa tokoh lainnya yang terkenal antara lain:
Al-Mu'alla b. al-Muthan'im (824-886 M)
Al-Jahiz (776-869 M)
Al-Qadi Abd al-Jabbar (889-940 M)
Al-Taftazani (1263-1320 M)

Para tokoh cendikiawan muslim ini telah memberikan kontribusi yang besar bagi perkembangan ilmu kalam di dunia Islam. Pemikiran mereka telah menjadi dasar bagi perkembangan ilmu kalam di masa selanjutnya.

Pembahasan Soal 5 :
Ilmu akhlaq dan tasawuf, yaitu ilmu tentang bagaimana berbuat baik dan menata hati dalam hubungan manusia dengan manusia, hubungan manusia terhadap dirinya sendiri, serta hubungan manusia dengan Tuhannya juga berkembang pesat pada masa Daulat Abbasiyah. Tokoh yang paling berpengaruh dalam bidang tersebut adalah...

Jawaban :
Tokoh yang paling berpengaruh dalam bidang ilmu akhlaq dan tasawuf pada masa Daulat Abbasiyah adalah Al-Ghazali (1058-1111 M). Ia lahir di Thus, Khurasan, Persia, dan wafat di Tus, Khurasan, Persia. Al-Ghazali adalah seorang ulama, sufi, dan filsuf muslim yang sangat berpengaruh.

Al-Ghazali telah menulis banyak karya dalam bidang ilmu akhlaq dan tasawuf, termasuk Ihya Ulum al-Din (Kebangkitan Ilmu-ilmu Agama), Mishkat al-Anwar (Cahaya Cahaya), dan Kimiya-i Saadah (Kimia Kebahagiaan). Karya-karyanya ini telah menjadi rujukan bagi para ulama dan sufi di seluruh dunia Islam.

Al-Ghazali menekankan pentingnya ilmu akhlaq dan tasawuf dalam kehidupan muslim. Ia berpendapat bahwa ilmu akhlaq mengajarkan bagaimana menjadi manusia yang baik, sedangkan ilmu tasawuf mengajarkan bagaimana mendekatkan diri kepada Allah.
Berikut ini adalah beberapa pemikiran Al-Ghazali dalam bidang ilmu akhlaq dan tasawuf:
Kesucian hati adalah syarat utama untuk mencapai kebahagiaan.
Amal saleh harus didasarkan pada niat yang ikhlas.
Hubungan manusia dengan Allah harus didasarkan pada cinta dan kasih sayang.
Pemikiran Al-Ghazali telah memberikan pengaruh yang besar terhadap perkembangan ilmu akhlaq dan tasawuf di dunia Islam. Pemikirannya masih relevan dan dapat diterapkan dalam kehidupan muslim di masa kini.

Selain Al-Ghazali, masih banyak lagi tokoh cendikiawan muslim yang berpengaruh dalam bidang ilmu akhlaq dan tasawuf pada masa Daulat Abbasiyah. 
Beberapa tokoh lainnya yang terkenal antara lain:
Junaid al-Baghdadi (830-910 M)
Abu Yazid al-Bustami (804-875 M)
Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah (1292-1350 M)
Imam al-Haddad (1646-1720 M)
Para tokoh cendikiawan muslim ini telah memberikan kontribusi yang besar bagi perkembangan ilmu akhlaq dan tasawuf di dunia Islam. Pemikiran mereka telah menjadi dasar bagi perkembangan ilmu akhlaq dan tasawuf di masa selanjutnya.

Saturday, 25 November 2023

Rangkuman Materi, Latihan Soal dan Kunci Jawaban PAI Kelas 8 Semester Ganjil, Bab. 3. Menjadi Pribadi Berintegritas dengan Sifat Amanah dan Jujur

Rangkuman Materi, Latihan Soal dan Kunci Jawaban PAI Kelas 8 Semester Ganjil, Bab. 3. Menjadi Pribadi Berintegritas dengan Sifat Amanah dan Jujur. Perilaku Amanah merupakan salah satu bentuk perilaku yang terpuji. Perilaku ini harus dimiliki oleh setiap orang yang ingin menjadi pribadi yang berintegritas. Integritas artinya perilaku konsisten atau istiqamah terus-menerus dalam kebaikan. Bagaimanakah sikap dan perilaku amanah itu? Marilah kita pelajari bersama.
Secara bahasa, amanah berasal dari kata dalam bahasa Arab amanatan yang berarti aman, tenteram, tenang, dan hilang rasa takut. Sementara dalam bahasa Indonesia amanah diartikan sebagai sesuatu yang dititipkan kepada orang lain, keamanan dan ketenteraman, dan dapat dipercaya.

Sedangkan secara istilah amanah berarti pemenuhan hak-hak oleh manusia, baik terhadap Allah Swt, orang lain maupun dirinya sendiri dan bertanggung jawab terhadap kepercayaan yang diterimanya untuk dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Allah berfirman dalam Q.S. an-Nisa'/4:58 tentang amanah sebagai berikut:

إِنَّ اللهَ يَأۡمُرُكُمۡ أَنْ تُؤَدُّواْ ٱلۡأَمَٰنَٰتِ إِلَىٰٓ أَهۡلِهَا وَإِذَا حَكَمۡتُمْ بَيۡنَ ٱلنَّاسِ أَنْ تَحۡكُمُواْ بِٱلۡعَدۡلِۚ إِنَّ اللهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِۦٓۗ إِنَّ اللهَ كَانَ سَمِيْعًا بَصِيْرٗا ٥٨

Artinya: Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum diantara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil. Sungguh, Allah sebaik-baik yang memberi pengajaran kepadamu. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Melihat. (An-Nisa'/4:58)

2. Cakupan Perilaku Amanah
Berdasarkan pengertian amanah secara istilah tersebut terdapat tiga cakupan amanah, yaitu amanah terhadap Allah Swt, sesama manusia, dan diri sendiri.

a. Amanah Kepada Allah Swt
Kita harus bersikap amanah kepada Allah Ta'ala. Arti amanah di sini adalah menunaikan kepercayaan dari Allah untuk mengemban tugas-tugas agama yang menjadi tanggung jawab manusia. Seperti kamu ketahui Allah menurunkan agama ini dengan panduan sebuah Kitab al-Qur'an. Suatu ketika Allah menawarkan al-Qur'an itu kepada langit, bumi, dan gunung, namun semuanya tunduk dan menolak karena tidak mampu mengembannya. Kemudian tugas-tugas keagamaan itu ditawarkan kepada manusia. Manusiapun menerima tugas itu. Konsekuensinya adalah jika manusia memiliki sifat amanah dan mengemban tugas itu dengan baik, maka ia akan mendapatkan surga. Sebaliknya, jika mengkhianati amanat itu, manusia akan dimasukkan ke dalam neraka.

Amanat dari Allah meliputi tugas-tugas agama seperti ibadah mahdoh seperti shalat, puasa, dan haji. Amanah itu juga berupa ketentuan agama yang bersifat qoiru mahdoh atau ibadah yang bersifat umum tidak diatur dengan ketat oleh Allah. Di antara contohnya adalah mencari ilmu, bekerja, berbisnis, dan lain sebagainya yang diniatkan sebagai ibadah kepada Allah Swt. Manusia disebut melaksanakan amanah jika ia mampu menjalankan kewajiban beribadah kepada Allah Swt dan meniatkan semua aktivitasnya sebagai ibadah kepada-Nya.

b. Amanah kepada sesama manusia
Amanah kepada sesama manusia artinya kepercayaan yang diberikan oleh sesama manusia baik dalam bentuk materi, ataupun nonmateri. Amanah yang berbentuk materi misalnya menitipkan benda atau harta kepada seseorang, seperti menitip rumah ketika ditinggal mudik, memberi pinjaman, utang, atau lainnya. Orang yang diberi kepercayaan itu harus menjaga amanah yang diberikan orang lain. Jika ia meminjam, maka barang pinjamannya harus kembali tanpa rusak. Jika ia berutang, maka harus mengembalikan hutangnya sesuai jangka waktu yang diberikan.

Amanah yang berbentuk non-materi dapat berbentuk jabatan atau kepercayaan yang diberikan oleh orang kepada diri seseorang. Jabatan yang diterima seseorang pada dasarnya merupakan amanah yang harus ditunaikan. Seseorang yang mengemban jabatan tertentu, ia berkewajiban untuk memenuhi tugas dan tanggungjawab jabatan yang diembannya. Atas amanah itu, ia juga akan dimintai pertanggung jawaban, baik di dunia maupun di akhirat.

Sebagai contoh adalah amanah sebagai seorang ketua kelas. Seseorang yang diberi kepercayaan sebagai ketua kelas harus bisa menunaikannya dengan baik, seperti memimpin teman di kelasnya, menyampaikan aspirasi kepada guru, membagi tugas kebersihan kelas, dan lain-lain. Jabatan ketua kelas harus dilaksanakan sebaik-baiknya, sebab akan dimintai pertanggungjawaban.

Perhatikan pesan Allah dalam Surat An-Nisa Ayat 58 yang artinya: Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Dalam ayat ini Allah memerintahkan kita agar menunaikan amanah kepada mereka yang berhak. Dengan menunaikan amanah seperti itu berarti kita sudah bersikap amanah kepada sesama. Kita harus menjaga amanah dari Allah dan dari manusia serta tidak mengingkarinya. Perhatikanlah Surah al-Anfal ayat 27 sebagai berikut yang artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.

c. Amanah kepada diri sendiri
Amanah kepada diri sendiri adalah tanggung jawab terhadap segala nikmat yang ada dalam diri manusia yang berguna bagi dirinya. Misalnya anggota tubuh, kesempatan, kesehatan, ilmu, harta dan lain sebagainya. Semua nikmat itu harus dilihat sebagai titipan Allah untuk diri seseorang. Titipan ini harus dijaga dengan sebaik-baiknya sehingga memberikan manfaat bagi pemiliknya, baik dalam kehidupan dunia maupun akhirat.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ فَالإِمَامُ . رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَهِيَ مَسْئُولَةٌ، وَالْعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ أَلَا فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ .

Dari Abdullah, Nabi saw bersabda: Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya dan ia akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang wanita adalah pemimpin atas rumah suaminya, dan ia pun akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang budak juga pemimpin atas harta tuannya dan ia juga akan dimintai pertanggungjawabannya. Sungguh setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya.

B. Perilaku Jujur
Sekarang kita akan belajar tentang perilaku jujur. Tahukah kamu apakah perilaku jujur itu? Bagaimana pula perintah Allah terkait perilaku jujur? Marilah kita pelajari bersama.

1. Pengertian perilaku Jujur
Kata jujur secara bahasa, berarti lurus hati, tidak bohong, dan tidak curang. Dalam bahasa Arab jujur berasal dari kata siddiq, yang artinya berkata benar. Sedangkan secara istilah jujur adalah kesesuaian antara lahir dan batin, ucapan dan perbuatan, serta berita dan fakta.

Allah berfirman tentang sifat jujur dalam Q.S. at-Taubah/9:119 sebagai berikut.

يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِيْنَ (۱۱۹)

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar. (At-Taubah/9:119)

Dalam ayat yang lain Allah berfirman termaktub dalam Surah al-Ahzab (33) ayat 70, Allah memerintahkan kita untuk senantiasa berkata benar.

يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا (۷۰)

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.

Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam pun memerintahkan kita untuk bersikap jujur. Perhatikan hadis Rasulullah sallallahu alaihi wa slalam berikut ini. Dari Abu Hurairah r.a: "Sesungguhnya Rasulullah saw. telah bersabda:

آيَة الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

Artinya: "Tanda-tanda orang munafik ada tiga perkara, yaitu apabila berkata, dia berdusta, apabila berjanji, dia ingkari, dan apabila diberi kepercayaan, dia mengkhianatinya." (HR. Bukhari Muslim)

2. Pembagian Perilaku Jujur
Sikap jujur merupakan sikap hidup yang harus dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari oleh siapapun. Oleh karena itu, terdapat beribu contoh sikap jujur dalam kehidupan. Di antaranya sebagai berikut :

a. Jujur kepada diri sendiri.
Jujur kepada diri sendiri berarti bersikap benar kepada diri sendiri. Contoh sikap jujur kepada diri sendiri antara lain jujur saat menghadapi ujian. Orang yang jujur saat ujian tidak akan menyontek. la akan berusaha belajar sebaik mungkin dan mengerjakan ujian dengan baik. la tidak akan berlaku curang. Sikap seperti ini sangat penting untuk membentuk karakter dini di masa yang akan datang.

b. Jujur kepada orang lain.
Jujur kepada orang lain artinya bersikap jujur saat kita berhubungan dengan orang lain atau mengemban amanat dari orang lain. Sikap jujur ini dapat kita temukan dalam kehidupan sehari- hari. Di antaranya contohnya adalah pedagang yang jujur akan selalu tepat saat menimbang dagangan.

Pedagang yang jujur tidak mengakali timbangan. Ia akan menimbang dengan benar. Pedagang yang jujur akan mendapat balasan surga. Sebaliknya pedagang yang curang akan mendapatkan balasan neraka. Perhatikanlah firman Allah dalam Surah al-Mutaffifin ayat 1-3 sebagai berikut, yang artinya: "Celakalah bagi orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang)! (Yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dicukupkan, dan apabila mereka menakar atau menimbang (untuk orang lain), mereka mengurangi."

Contoh lain jujur kepada sesama adalah jujur ketika berjanji. Jujur ketika berjanji artinya berusaha untuk menunaikan dan menepatinya. Orang yang bersikap jujur kepada sesama akan dihargai dan dipercaya orang lain.

c. Jujur kepada Allah dan rasul-Nya.
Jujur kepada Allah dan rasul-Nya artinya berlaku benar dengan ucapan dan tindakan kita. di antara contoh sikap jujur kepada Allah dan rasul-Nya adalah berusaha tunduk dengan aturan Allah dan rasul-Nya. Kata Islam artinya tunduk mengikut, artinya tunduk mengikuti aturan Allah.

Jujur kepada Allah kita lakukan dengan senantiasa tunduk kepada perintah dan larangan Allah. Saat Allah memerintahkan kita salat, maka melaksanakan salat perbuatan jujur dan meninggalkan salat perbuatan tidak jujur. Allah melarang kita meminum minuman keras. Kalau kita menaati larangan itu, berarti kita jujur kepada Allah.

Apakah ada orang yang tidak jujur kepada Allah dan rasul-Nya? Ternyata ada. Hal ini dinyatakan Allah dalam Surah al-Baqarah ayat 8-9 sebagai berikut, yang artinya: Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian," pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.

Dalam ayat di atas kita mendapat informasi bahwa ada di antara manusia yang berkata kami beriman kepada Allah dan hari akhir, namun sebenarnya mereka tidak beriman. Mereka berdusta kepada Allah dan kaum muslimin dengan perkataan mereka itu. Mereka adalah orang yang menyatakan keimanannya namun tidak memenuhi kewajibannya sebagai orang yang beriman.

3. Bersikap jujur pada tempatnya.
Jujur itu baik. Seseorang yang jujur, ia akan memiliki sikap yang konsisten antara hati, perkataan dan perbuatan. Hatinya menghendaki keberhasilan belajar. la pun akan menyampaikan kepada orang tua dan guru bahwa ia akan selalu belajar dengan tekun dan bersungguh-sungguh. Ia juga membuktikannya dengan aktivitas belajar, baik selama proses maupun pada waktu penilaian.

Seseorang juga dikatakan jujur apabila ia menyampaikan berita yang benar dan sesuai dengan kenyataan. Seseorang yang berperilaku jujur akan memastikan kebenaran berita yang diperolehnya. sebelum menyampaikannya kepada orang lain. Demikian halnya dengan penyampaian berita di media sosial. Seseorang disebut sebagai orang yang jujur dalam bermedia sosial apabila ia cermat dalam menyebarkan berita, yaitu dengan hanya menyebarkan berita yang sudah terkonfirmasi kebenarannya.

Namun ada kalanya dalam keadaan tertentu, kita akan lebih baik jika menutup atau tidak mengatakan yang sebenarnya. Di antaranya jika kejujuran itu akan merusak silaturahmi dan hubungan antara dua orang atau membahayakan keselamatan orang lain. Dalam keadaan seperti ini tidak bersikap jujur dan terbuka akan membawa dampak yang lebih baik daripada jika kita jujur dan terbuka.

4. Manfaat Sikap Jujur dalam Kehidupan.
Sikap jujur membawa banyak manfaat bagi pelakunya. Di antara manfaat berlaku jujur adalah sikap jujur akan mendatangkan ketenangan dan keberkahan hidup. Selain itu sikap jujur akan membuat kita mendapatkan kepercayaan dan rasa hormat dari orang lain.

C. Membiasakan Berperilaku Amanah dan Jujur
Amanah dan jujur merupakan akhlak yang sangat penting dalam kehidupan. Kedua sikap ini menjadi perekat hubungan dengan sesama manusia dan dengan Allah ta'ala.

1. Sikap Amanah dan Jujur Pondasi Hubungan dengan Orang Lain
Sikap amanah dan jujur menjadi pondasi utama dalam bermuamalah atau hubungan antar sesama manusia. Hubungan sosial yang dibangun di atas nilai-nilai amanah dan kejujuran akan melahirkan kepercayaan terhadap sesama. Kehidupan bermasyarakat yang penuh dengan kepercayaan akan menghasilkan hubungan yang harmonis. Dan masyarakat yang harmonis dapat melahirkan berbagai kebaikan di antara mereka.

Amanah dan jujur memiliki hubungan yang sangat erat. Amanah adalah kepercayaan yang diberikan oleh pihak lain. Amanah tidak mungkin diberikan tanpa ada kepercayaan dari pihak yang memberi amanah. Allah Swt memberi amanah kepada manusia karena Allah Maha Mengetahui kemampuan manusia dalam menjalankan amanah. Dengan potensi yang Allah berikan, manusia seharusnya mampu menjalankan amanah itu. Kecuali orang-orang yang memang enggan melakukannya. Kepada mereka yang enggan, Allah Swt sudah menyiapkan balasan yang setimpal.

2. Melatih Perilaku Amanah dan Jujur
Berikut ini beberapa cara melatih diri agar bisa berperilaku amanah dan jujur dalam kehidupan sehari-hari.

a. Cara berperilaku amanah
  1. Meyakini bahwa amanah merupakan titipan belaka sehingga tidak mempunyai hak untuk memiliki
  2. Menyadari bahwa setiap amanah harus dipertanggungjawabkan, baik di dunia maupun di akhirat
  3. Menjaga amanah yang diberikan sebaik-baiknya agar tidak rusak atau berkurang nilainya
  4. Melaksanakan amanah sebaik-baiknya sesuai dengan tujuan

b. Cara berperilaku jujur
  1. Meyakini bahwa Allah Maha Melihat, Maha mendengar, dan Maha Mengetahui terhadap segala yang dipikirkan, dikatakan, dan dilakukan oleh manusia
  2. Meyakini bahwa kejujuran dapat memunculkan kepercayaan dari orang lain
  3. Meyakini bahwa kejujuran akan membawa kepada kebaikan, baik kebaikan dunia maupun akhirat
  4. Terbiasa berkata benar, sesuai antara yang dipikirkan, yang dikatakan, dan yang dilakukan
  5. Menghindari perkataan bohong, walaupun hanya sebagai candaan.

D. Hikmah Sikap Amanah dan Jujur bagi Masa Depan Generasi Muda
Sikap amanah dan jujur memiliki hikmah yang teramat banyak. Manfaat tersebut berupa hikmah besar dalam hubungannya dengan Allah subhanahu wa ta'ala dan hikmah besar dalam hubungannya dengan diri sendiri dan orang lain.

1. Hikmah sikap amanah dan jujur dalam hubungan dengan Allah Ta'ala.
Sikap amanah dan jujur membawah hikmah besar dalam hubungan kita dengan Allah ta'ala. Orang yang amanah dan jujur dalam sikapnya kepada Allah maka akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang benar dan mendapat balasan surga. Sebaliknya, orang yang bersikap tidak jujur dan amanah akan dicatat sebagai pendusta dan masuk neraka.

Perhatikanlah hadis Rasulullah salllalahu alaihi wa sallam berikut ini.

Dari Abdullah r.a. dari Nabi saw. bersabda:

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصَّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُحُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

Artinya: "Hendaklah kamu semua bersikap jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan membimbing pada kebaikan, dan kebaikan itu akan membimbing ke surga, sesungguhnya jika seseorang yang senantiasa berlaku jujur hingga ia akan dicatat sebagai orang yang jujur. Dan sesungguhnya kedustaan itu akan mengantarkan pada kejahatan, dan sesungguhnya kejahatan itu akan menggiring ke neraka. Dan sesungguhnya jika seseorang yang selalu berdusta sehingga akan dicatat baginya sebagai seorang pendusta." (HR. Bukhari)

2. Hikmah sikap amanah dan jujur dalam hubungan dengan sesama
Sikap amanah dan jujur juga membawa hikmah besar dalam hubungan dengan sesama. Orang yang amanah dan jujur akan dihormati dan disegani oleh orang lain. Ia akan dipercaya dan diterima. perkataan dan perbuatannya oleh masyarakat. Kepercayaan dan pengakuan tersebut akan membawal kebaikan untuk dirinya sendiri dan masyarakat.

3. Hikmah sikap amanah dan jujur terhadap diri sendiri
Sikap amanah dan jujur juga membawa hikmah bagi diri sendiri. sikap ini membawa ketenangan dalam jiwa seseorang. la akan selalu berkata dan berlaku benar. Dengan demikian, tidak ada kekhawatiran dalam dirinya karena ia senantiasa dalam kebenaran. Pada saat yang sama sikap ini menghindarkan seseorang dari pribadi yang munafik, bermuka ganda, dan tidak dapat dipercaya.

Dengan demikian secara ringkas, sikap amanah dan jujur akan membawa manfaat dan hikmah besar bagi pelakunya. Di antara hikmah sikap amanah dan jujur sebagai berikut :
1. Mendapatkan rida Allah ta'ala.
2. Tercatat di sisi Allah sebagai orang yang benar
3. Akan dimasukkan Allah dalam surga-Nya.
4. Mendapat kepercayaan, penghargaan, dan diterima oleh masyarakat.
5. Mendapatkan ketenangan dalam jiwa.

LATIHAN SOAL DAN KUNCI JAWABAN
1. Salah satu makna amanah dalam bahasa Indonesia adalah...
A. dapat dipercaya
B. sukses
C. berhasil
D. memenuhi

2. Allah memerintahkan kita menyampaikan amanah kepada yang berhak. Perintah itu Allah sampaikan dalam al-Qur'an Surah ...
A. al-Baqarah ayat 18
B. Ali Imran ayat 34
C. an-Nisa ayat 58
D. al-Hujurat ayat 3

3. Perilaku amanah merupakan salah satu bentuk perilaku...
A. terpuji
B. biasa saja
C. tercela
D. munafik

4. Ridwan berusaha memenuhi amanah yang Allah berikan kepada dirinya dengan giat melaksanakan shalat. Ridwan bersikap menjaga amanah kepada Allah yang berupa....
A. harta benda
B. kesehatan
C. jabatan
D. ketentuan agama

5. Allah hendak memberikan amanah kepada gunung namun gunung menolaknya karena khawatir tidak dapat memenuhinya. Amanah itu kemudian diberikan Allah dan diterima oleh...
A. malaikat
B. alam semesta
C. manusia
D. lautan

6. Kisah Allah menawarkan amanah kepada gunung, dan angkasa namun mereka keberatan diceritakan Allah dalam...
A. Al-Qur'an
B. hadis nabi
C. hadis qudsi
D. kisah Israiliat

7. Rahmat meminjam pensil kepada Andre. Sikap amanah yang ditunjukkan oleh Rahmat dalam hal pinjaman tersebut adalah...
A. Rahmat mengembalikan pinjamannya dengan baik
B. Rahmat menukar pensil yang dipinjamnya
C. Rahmat tidak mengembalikan pensil itu
D. Rahmat meminta pensil itu

8. Pak Budi mendapat amanah berupa kenaikan jabatan menjadi kepala cabang di kantornya. Amanah yang berupa jabatan dilaksanakan dengan cara....
A. menunaikan jabatan itu dengan penuh tanggung jawab
B. menggunakan jabatan untuk memperkaya anggota
C. menggunakan jabatan untuk memaksa bawahannya
D. menyerahkan jabatannya kepada orang yang lebih mampu melaksanakannya.

9. Kebalikan dari sikap amanah adalah sikap...
A. munafik
B. khianat
C. kafir
D. fasik

10. Yuni ingin menunaikan perintah Allah dalam Surah an-Nisa ayat 58. Perilaku yang sesuai dengan keinginan Yuni adalah....
A. Yuni melaksanakan salat dengan khusyu'
B. Yuni berlaku jujur kepada siapapun
C. Yuni membantu sesama
D. Yuni menunaikan amanah kepada yang berhak

11. Salah satu bentuk sikap amanah saat menetapkan hukum adalah dengan cara yang...
A. tegas
B. keras.
C. adil
D. tanpa belas kasihan

12. Contoh sikap jujur ditunjukkan oleh...
A. Indah berkata lapar saat ia memang lapar
B. Santi memberikan bantuan dengan uang sekolahnya
C. Dino selalu meminta uang kembalian untuk dirinya
D. Yanto menginginkan sepeda baru milik temannya

13. Seorang mukmin akan memilih untuk bersikap jujur meski dapat merugikan...
A. diri sendiri
B. orang lain
C. bangsa
D. negara

14. Orang yang selalu berkata dusta akan dicatat di sisi Allah sebagai...
A. pendosa
B. pendusta
C. ahli neraka
D. penghuni neraka

15. Hendaklah kamu bersikap jujur. Hal ini karena kejujuran akan membawa pada....
A. kebaikan
B. surga
C. pahala
D. neraka

16. Beramal dengan niat ingin dipuji orang lain menunjukkan sikap tidak ...... kepada Allah ta'ala.
A. adil
B. iman
C. takwa
D. jujur

17. Sikap jujur akan mendatangkan ketenteraman bagi kita. Hal ini karena kita berlaku....
A. sesuai kenyataan
B. sesuai ketentuan
C. sesuai keinginan
D. sesuai harapan

18. Orang yang selalu tidak jujur dengan perkataan akan terjerumus dalam sikap....
A. nifak
B. kufur
C. takwa
D. dzulm

19. Kejujuran akan menuntun kita pada kebenaran dan kebenaran akan menuntun kita menuju...
A. keberuntungan.
B. keindahan
C. persaudaraan
D. surga

20. Konsekuensi yang akan terjadi bagi orang jujur adalah...
A. dijauhi teman
B. dibenci orang lain
C. mendapat murka Allah Swt.
D. dihargai oleh orang lain

Demikian Rangkuman Materi, Latihan Soal dan Kunci Jawaban PAI Kelas 8 Semester Ganjil, Bab. 3. Menjadi Pribadi Berintegritas dengan Sifat Amanah dan Jujur, semoga bermanfaat.

Sunday, 15 October 2023

Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Kelas 7 Kurikulum Merdeka Bab 1. Tentang Al-Qur’an Dan Sunah Sebagai Pedoman Hidup


Profil Pelajar Pancasila
“Pelajar Indonesia merupakan pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai nilai-nilai Pancasila.”

Enam dimensi pelajar Pancasila:
  1. Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia
  2. Mandiri
  3. Bernalar kritis
  4. Kreatif
  5. Bergotong-royong
  6. Berkebinekaan global.
Profil Pelajar Pancasila merupakan cita-cita, tujuan besar pendidikan, dan komitmen penyelenggara pendidikan dalam membangun sumber daya manusia Indonesia. Profil lulusan merupakan representasi karakter serta kompetensi yang diharapkan terbangun utuh dalam diri setiap pelajar Indonesia.

Capaian Pembelajaran PAI dan Budi Pekerti
Fase D (Capaian Tahunan)
Pada akhir fase D, peserta didik memahami definisi Al-Qur’an dan hadis Nabi dan posisinya sebagai sumber ajaran agama Islam. Peserta didik juga memahami pentingnya pelestarian alam dan lingkungan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dalam ajaran Islam. Peserta didik juga mampu menjelaskan pemahamannya tentang sikap moderat dalam beragama. Peserta didik juga memahami tingginya semangat keilmuan beberapa intelektual besar Islam.

Dalam aspek akidah, peserta didik mendalami enam rukun Iman. Dari segi akhlak, peserta didik mendalami peran aktivitas salat sebagai bentuk penjagaan atas diri sendiri dari keburukan.

Peserta didik juga memahami pentingnya verifikasi (tabayun) informasi sehingga dia terhindar dari kebohongan dan berita palsu. Peserta didik juga memahami definisi toleransi dalam tradisi Islam berdasarkan ayat-ayat Al-Quran dan hadis-hadis Nabi. Peserta didik juga mulai mengenal dimensi keindahan dan seni dalam Islam termasuk ekspresi-ekspresinya.
toriq

Dalam ranah ibadah, peserta didik memahami internalisasi nilai-nilai dalam sujud dan ibadah salat, memahami konsep muʿamalah, ribā, rukhsah, serta mengenal beberapa mazhab fikih, dan ketentuan mengenai ibadah kurban.

Dalam aspek sejarah, peserta didik mampu menghayati penerapan akhlak mulia dari kisah-kisah penting dari Bani Umayyah, Abbasiyyah, Turki Usmani, Syafawi dan Mughal sebagai pengantar untuk memahami alur sejarah masuknya Islam ke Indonesia.

Membaca Q.S. an-Nisa/4: 59 dan Q.S. an- Naḥl/16: 64 dengan tartil, khususnya pada ba- caan alif lām syamsiyyah dan qamariyyah, dapat menulis Q.S. an-Nisa/4: 59 dan Q.S. an- Naḥl/16: 64 dengan baik dan benar, menghafal Q.S. an-Nisa/4: 59 dan Q.S. an-Nahl/16: 64 den- gan tartil dengan lancar, menjelaskan definisi Hadis dan fungsinya atas Al-Qur'an menurut Q.S. an-Nisa/4: 59 dan Q.S. an-Naḥl/16: 64, dapat membuat karya berupa peta konsep definisi Hadis dan fungsinya atas Al-Qur'an sehingga meyakini mushaf al-Qur'an dan hadis nabi se- bagai pedoman hidup serta termotivasi untuk mendalami Al-Qur'an dan Hadis.
Mendeskripsikan contoh-contoh penerapan iman kepada Allah Swt melalui al-Asmā al-Ḥusnā al-'Alīm, al-Khabir, al-Sami', dan al- Başir, dapat membuat poster yang berhubungan dengan sikap orang beriman kepada Allah Swt. dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan al-Asmā al-Husna al-'Alīm, al- Khabir, al-Sami', dan al-Başir sehingga terbiasa meneladan sifat al-asmā al-ḥusna dan menumbuhkan sikap percaya diri, tekun, teliti, menjadi pendengar yang baik, dan visioner.
Menjelaskan hakikat salat dan zikir sebagai pencegah perbuatan keji dan munkar, membuat karya berupa quote yang mengandung isi bah- wa salat dan zikir dapat mencegah perbuatan keji dan munkar, mengamalkan salat lima wak- tu dan zikir secara konsisten sehingga dapat mencegah perbuatan keji dan munkar
Menjelaskan ketentuan dan tata cara sujud sahwi, tilawah, dan syukur berdasarkan dalil naqlinya, dapat mempraktikkan ketentuan dan tata caranya sehingga tertanam sikap tunduk kepada aturan Allah serta sikap rendah hati, menjauhkan diri dari perilaku sombong dan takabur, dan menjadi insan yang pandai ber- syukur.
Menceritakan sejarah Bani Umayyah di Dama- skus (711-755 M) dalam membangun tata kelola berbagai bidang (pemerintahan, hukum, sosial, ekonomi, keagamaan, dan pendidikan), dapat membuat bagan timeline perkembangan peradaban Islam pada masa Bani Umayyah di Damaskus sehingga tertanam keyakinan bahwa agama mendorong peradaban dan menumbuhkan rasa cinta tanah air dan semangat membangun negeri.
Membaca Q.S. al-Anbiya/21: 30 dan Q.S. al- A'raf/7: 54 dengan tartil, khususnya pada bacaan gunnah, dapat menulis Q.S. al-Anbiyā/21: 30 dan Q.S. al-A'raf/7: 54 dengan baik, menjelas- kan kandungan ayat dari Q.S. al-Anbiya/21: 30 dan Q.S. al-A'raf 7: 54 dan hadis tentang penciptaan dan keteraturan alam semesta, meng- hafal Q.S. al-Anbiya/21: 30 dan Q.S. al-A'raf 7: 54 dengan lancar, dapat membuat karya teks doa berisi rasa syukur atas penciptaan alam semesta yang indah sehingga menumbuhkan rasa syukur dan kecintaan terhadap tanah air yang diciptakan Allah dengan keindahan dan sumber daya alam yang berlimpah.

Menganalisis manfaat beriman kepada Malaikat, dapat membuat infografis mengenai tugas para malaikat dan manfaatnya dalam menumbuhkan karakter positif sehingga tertanam keyakinan bahwa Allah Swt telah mengutus malaikat, serta terbiasa beramal baik dan menjauhi amal buruk.

Mendeskripsikan dampak negatif dari gibah dan menumbuhkan sikap tabayun, dapat men- ganalisis perbedaan antara konten gibah dengan kritik dan review produk di media sosial sehingga tertanam keyakinan bahwa Allah Swt Maha Mengetahui dan Melihat serta terbiasa menciptakan harmoni sosial dengan menjauhi gibah dan menumbuhkan sikap tabayun.

Menjelaskan konsep rukhsah dalam salat, pua- sa, zakat,dan haji, dapat membuat bagan atau tabel mengenai rukhsah dalam salat, puasa, zakat, dan haji sehingga tertanam sikap penerimaan diri terhadap keringanan dalam menjalankan ajaran agama serta terbiasa disiplin dan saling menghargai dalam menjalankan ibadah.

Menceritakan sejarah perkembangan ilmu pen- getahuan pada masa Bani Umayyah (929-1031 M) di Andalusia (Spanyol), dapat membuat ba- gan, infografis, atau timeline perkembangan ilmu pengetahuan pada masa Bani Umayyah di Andalusia (Spanyol) sehingga tertanam keya- kinan bahwa Allah Swt sebagai Zat pemberi ilmu, serta menumbuhkan semangat dalam mencari ilmu dan mengembangkan teknologi.

Demikian Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Kelas 7 Kurikulum Merdeka Bab 1. Tentang Al-Qur’an Dan Sunah Sebagai Pedoman Hidup